Minggu, 03 Desember 2017

Program Hamil (Ikhtiar & Doa)

Bismillahirrohmanirrohim.
Tulisan ini Saya buat sebagai catatan dan motivasi untuk teman-teman yang sedang berjuang untuk memiliki buah hati.
Saya berharap kisah saya bisa menjadi semangat untuk teman-teman. Dan semoga semua calon Ibu yang sedang berikhtiar dan menunggu akan disegerakan oleh Allah untuk merasakan kehamilan dan keindahan menjadi seorang Ibu. Aamiin.

Saya menikah di tahun 2015 tepatnya bulan Oktober.
Dulu sekali, saya berfikir bahwa kehamilan itu adalah hak manusia. Dimana setiap pasangan yang menikah pasti akan hamil. Saya melihat orangtua dan kakak2 saya yang hampir semuanya hamil dengan segera setelah mereka menikah. Jedanya hanya 1-2 bulan setelah menikah, mereka langsung positif hamil.
Tapi ternyata saya salah. Pengalaman telah mengajarkan saya bahwa kehamilan adalah mutlak hak Allah. Ini artinya tidak ada yang bisa mengganggu gugat selain Allah. Bahwa kehamilan dan kelahiran seorang anak adalah murni takdir Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, hasil akhirnya sungguh2 hanya Allah yang bisa menentukan.

Saya adalah perempuan dengan siklus haid yang Alhamdulillah teratur. Namun di awal2 pernikahan, saya yang masih sangat menggebu2 untuk hamil, membeli beberapa test pack untuk melakukan pengecekan kehamilan bahkan jauh sebelum saya terlambat menstruasi. Karena ada salah satu merk test pack yang menyatakan bisa mendeteksi kehamilan segera setelah kita melakukan hubungan suami istri.

1 bulan, 2 bulan, 3 bulan berlalu dan setiap bulan itu yang saya temukan hanyalah 1 garis merah di atas test pack. Sedih dan kecewa seringkali menghinggapi saya setiap kali saya sudah terlambat haid 2 hari namun kemudian di hari ke 3 si menstruasi pun datang.

Kesedihan tidak berhenti sampai disitu. Karena sebagai orang indonesia, sebagai mahluk sosial dimana kita seringkali menghadiri acara keluarga seperti arisan dll, seringkali acara tersebut menjadi ajang dimana pertanyaan menakutkan itu keluar dari mulut saudara2 kita. "Gimana? Sudah isi belum?" Sebenarnya mungkin pertanyaan itu adalah suatu bentuk perhatian dari mereka, namun bayangkan bagaimana perasaan pasangan yang ditanya2 seperti itu apalagi jika pertanyaannya sudah lebih mendetail seperti "Kok belum isi sih? Emang kalian nunda ya?" "Kapan dong isinya? Kan udah sekian bulan/tahun nikahnya"
Ketika ditanya seperti itu yang bisa saya lakukan hanya senyum sambil berkata "Minta doanya aja"
Tapi ya lama2 senyum saya akan terlihat semakin 'asem' dan ujung2nya jadi malas untuk datang ke acara2 keluarga.

Tidak terasa sudah genap setahun pernikahan kami berjalan, dan masih belum ada tanda2 saya hamil. Saya dan suami akhirnya sepakat untuk melakukan konsultasi ke dokter kandungan.
Kala itu sekitar bulan november 2016 kami memilih rumah sakit Bunda Margonda untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan. Pilihan saya jatuh ke RS Bunda karena selain letaknya yang dekat dengan rumah, RS Bunda memiliki banyak dokter wanita yang terkenal sudah berhasil dalam membantu pasangan yang melakukan program hamil. Selain itu, RS Bunda juga memiliki klinik Morula IVF. Ya, saya sudah berfikir sejauh itu. Insya Allah saya mau berikhtiar semaksimal mungkin untuk segera mendapatkan keturunan.

Singkat cerita, saat tiba giliran saya dipanggil oleh dokter (saat itu saya berkonsultasi dengan dr. Tyas) saya ditanya2 beberapa hal seperti siklus haid, nyeri yang dirasakan saat haid, lama pernikahan, dll. Dokter Tyas melakukan USG transvaginal untuk melihat kualitas sel telur saya dan apakah saya menidap PCO atau tidak. Setelah dilihat saat itu ada 2 sel telur dalam rahim saya yang sudah siap dibuahi namun ukurannya masih sangat kecil di bawah rata2 ukuran nornal. dr. Tyas mengatakan ini bisa jadi karena saat ini belum masa subur saya sehingga sel telur belum siap untuk dibuahi. Namun yang bisa dipastikan adalah Alhamdulillah saya tidak mengidap PCO.

Setelah membaca hasil USG tersebut, kemudian sayapun dirujuk untuk melakukan HSG. Saat dr. Tyas mengatakan hal itu, satu hal yang ada di fikiran saya adalah 'takut'. Ya, saya sudah sering membaca di beberapa blog ibu2 yang sedang melakukan promil bahwa tes HSG itu rasanya sakiit sekali sampai membuat susah berjalan dll.
Di tulisan ini saya tidak akan menjelaskan terlalu detail mengenai HSG. Namun saya hanya ingin menekankan bahwa tes HSG tidak semenakutkan itu, tidak sesakit yang kalian bayangkan. Jika Anda dirujuk melakukan tes tersebut, jalani saja.
Saya cuma bisa bilang bahwa Allah menciptakan wanita itu sebagai mahluk yang sangat kuat. Jadi kalau cuma tes HSG saja maah keciiillll (hehehehe)
Dalam tes HSG itu dokter hanya akan menyuntikkan cairan ke dalam rahim kita untuk kemudian difoto untuk mengetahui apakah ada penyumbatan atau tidak di saluran tuba fallopi dan bagaimana kondisi rahim kita apakah sehat atau ada gangguan kesehatan tertentu.

Dari hasil tes HSG itulah kemudian saya mengetahui bahwa saya memiliki struktur rahim yang terbalik atau istilah medisnya retrofleksi. Saya sangat sedih kala itu karena berfikir bahwa itulah penyebab sulitnya kami mendapat keturunan. Namun setelah saya konfirmasi ke dokter, beliau mengatakan bahwa rahim terbalik hanyalah variasi bentuk saja. Sama seperti bentuk daun telinga, ada yang caplang ada yang tidak. Bentuk cuping hidung ada yang mancung ada yang pesek, namun diantara perbedaan bentuk tersebut tidak mengganggu fungsi utama dari organ tersebut. Sayapun sedikit lega mendengarnya.

Tapi kecemasan saya tidak berhenti sampai disitu karena setelah saya googling, memang ada pengalamn beberapa wanita dengan rahim terbalik lebih sulit memiliki keturunan dan kalaupun hamil mereka akan sulit untuk melahirkan pervaginam.

Sekali lagi saya ingin tulisan ini sebagai motivasi untuk para calon Ibu. Bahwa selama promil, buang saja jauh2 semua fikiran dan cerita2 buruk apapun yang pernah kalian dengar. Bacalah buku2 dan referensi yang memberikan tulisan yang positif. Satu hal yang harus selalu diingat adalah kehamilan itu adalah mutlak hak Allah, sehingga mintalah pada-Nya dan percaya bahwa Ia akan memberi di saat yang paling tepat menurut-Nya. Ya, hanya Dia yang tahu kapan waktu yang paling tepat. Dia akan memberikan anugerah itu di saat yang kita sudah siap secara lahir dan batin.
Jadi teruslah berikhtiar dan jangan pernah putus berdoa. Percaya bahwa Allah yang Maha menciptakan.

Setelah tes HSG tersebut, seharusnya masih ada rangkaian tes lain yang saya lakukan diantaranya tes hormon dan suami juga perlu melakukan tes sperma tapi karena terbentur dengan jadwal pekerjaan kala itu, kami urung melakukan tes2 tersebut. Hingga akhirnya yang berhasil menghantarkan kami diberikan kepercayaan oleh Allah untuk memiliki keturunan adalah murni kekuatan doa. Saya ingat betul di beberapa bulan terakhir sebelum saya akhirnya dinyatakan positif hamil, di setiap sujud dalam shalat saya selalu berdoa Do'a Nabi Zakariya dalam Q.S. Al-Anbiya ayat 89 yang artinya :

"Ya Allah, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik."

Setelah melakukan tes HSG tersebut saya benar2 memasrahkan semuanya pada Allah dan tidak pernah putus untuk mengulang2 doa Nabi Zakariya tersebut hingga akhirnya Alhamdulillahirobbil'alamiin. Saya pun dinyatakan positif hamil pada bulan maret 2017 ๐Ÿ˜‡

Allah Maha Besar dengan segala rahasia-Nya.

Jadi kalau ditanya program hamil apa saja yang sudah saya lakukan selain ikhtiar medis yang sudah saya ceritakan di atas? Saya bisa rangkum sebagai berikut :

1. Terapi jeruk nipis

2. Minum madu penyubur

3. Menggunakan manjakani khanza

4. Makan kurma muda

5. Minum folavit dan vitamin E

6. Makan makanan sehat

7. Berbahagialah! ๐Ÿ˜Š 


Percaya deh! Nikmatin waktu bersama suami karena ketika Allah beri kesempatan jeda waktu setelah menikah sampai akhirnya sang Ibu dinyatakan hamil, masa itulah dimana Allah menanugerahkan kepada pasangan suami istri tersebut untuk saling mengenal dan memahami lebih dalam sehingga kelak ketika memiliki anak, kalian sudah benar2 siap insya Allah lahir dan batin ๐Ÿ˜Š

Ingat untuk selalu berfikir positif pada Allah ya ๐Ÿ˜‡sebagaimana firman-Nya Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” 

Sabtu, 25 November 2017

Cerita Lahiran Anak Pertama

Sudah lama sekali tidak menulis di blog ini :)

Kali ini saya mau sharing tentang cerita kelahiran putra pertama kami, Khawarizmi Jantaamir Tafiandi yang lahir pada hari Senin, 13 November 2017 Pukul 05.48 Pagi. Berat badannya 3,3 kg dan tingginya 50,5 cm.

Kelahiran anak kami ini merupakan hal yang sangat ditunggu-tunggu, karena selain kami harus menunggu kurang lebih 2 tahun sejak pernikahan kami di tahun 2015, si bayi sholeh ini juga cukup betah di dalam rahimku. Dia lahir di usia kandungan 40 minggu lebih 1 hari :)

Saya sudah mulai cuti di usia kandungan 39 Minggu. Tadinya mau dipasin 40 minggu tapi khawatir bakal nyusahin temen2 kantor kalo tiba2 saya mules di kantor yang di daerah Tebet dan harus nemenin saya yang memang berencana lahiran di Citayem :D

Semua orang bertanya, "Ngapain sih lahiran aja jauh2 ke Citayem?" Pertanyaan itu diutarakan oleh hampir semua orang termasuk orang tua kami sendiri. Saya cuma menjawab "Karena aku nyaman disana. Bidannya baik :)"

Pertama kali saya mengetahui Bidan kesayanganku (dan kesayangan semua ibu2 hamil :D) ini adalah dari salah seorang teman kerjaku yang sudah lebih dulu melahirkan disana. Bahkan dia memberitahu perihal bidan ini dari semenjak aku belum hamil :D

Alhamdulillah mungkin itu salah satu bentuk doa darinya. Jadilah saat pertama kali saya terlambat haid dan mencoba untuk melakukan uji kehamilan menggunakan test pack, orang pertama yang saya hubungi adalah Bidan Erie. Nama lengkapnya Erie Tiawaningrum atau lebih dikenal dengan Erie Marjoko (ig: eriemarjoko).
Kala itu, saya menghubungi beliau via whatsapp untuk meyakinkan perihal kehamilan saya dan yang membuat saya langsung jatuh hati pada beliau adalah beliau menjawab wa saya langsung dengan kalimat yang penuh kasih dan perhatian padahal jelas2 beliau belum kenal dengan saya dan saya belum jadi pasiennya saat itu.

Cerita tentang proses kehamilan ini akan saya tulis terpisah supaya lebih puas ceritanya :)

Kembali ke #ceritalahiran saya, saya menunggu mulai hari senin-kamis, tidak ada sama sekali tanda2 saya akan melahirkan. Setiap hari di sujud dalam shalat saya berdoa pada Allah untuk membantu memberikan kekuatan dan kelancaran dalam proses persalinan saya kelak. Saya berdoa semoga Allah menganugerahkan kepada saya kelahiran yang nyaman, aman dan keselamatan bagi saya dan bayi saya.
Saya sudah mulai melakukan induksi alami yang disarankan Bude Erie. Banyakin yoga dan jalan pagi, makan Kambing, makan nanas, berhubungan dengan suami, pijat endorphin & oxytocin. Ternyata induksi alami itu enak yah <3

Singkat cerita, Jumat 10 Nov 2017.
Jam 12 malam saya mulai merasa sedikit mules seperti mau menstruasi. Jam 2 pagi ke toilet mau pipis dan ternyata sudah flek. Langsung senyum dan bersyukur sama Allah. Berfikir bahwa inilah hari besar yang ditunggu2.
Jam 10 pagi berangkat ke bidan karena flek tambah banyak walau belum mules.
Sampe klinik ditunggu kontraksinya masih jarang. Kadang 15 menit kadang 30 menit kadang hilang, pas dicek sama mba simsim (salah satu tim bidan Bude Erie) baru bukaan 'seujung' 😁 jadilah disuruh pulang lagi. Saya pun mengajak suami untuk jalan2 ke Mall 😁

Sabtu, 11 Nov 2017
Pagi sampai sore ngga ada kontraksi sama sekali. Baru mulai sekitar habis maghrib, sudah mulai 15 menit sekali. Sempet kefikiran buat ke klinik malam itu juga tapi suami dan mba sim2 bilang kalau masih bisa istirahat di rumah, istirahat aja dulu. Akhirnya malam itu Alhamdulillah masih bisa tidur di rumah walau harus bangun 15 menit sekali.

Minggu, 12 Nov 2017
Hari ini tepat HPL adik bayi dan memang jadwal yoga. Mulai yoga jam 9 pagi. Alhamdulillah masih bisa ikut yoga sampai selesai (yang ternyata prenatal yoga terakhir di kehamilanku ini huhu sedih 😭) dan setelah yoga dicek oleh Bude Erie sudah pembukaan 1 hadap atas. Sudah bagus kata beliau, kalau mau stay di klinik boleh tapi kalau masih mau pulang juga boleh. Sambil menunggu dijemput suami yang saat itu sedang mengantar Ibu mertua, saya diaccupressure oleh mba Ririn. Enak banget rasanya. Nyamaaan banget sampai aku ngantuk dan hampir ketiduran :D.
Setelah suami datang, Bude Erie bilang ke suami kalau hati2 naik motornya karena aku sudah bukaan 1. Suami sempet nawarin apa mau stay di klinik aja dan dia yg ambil tas perlengkapan persalinan aku dan adik bayi. Tapi Aku mutusin pulang untuk mandi dulu karena mau menyambut tamu besar 😇
Setelah mandi aku paksain tidur walau harus kebangun tiap kontraksi datang.
Jam 8 malam kontraksi sudah 511 akhirnya aku ajak suami berangkat ke klinik. Waktu tempuh dari tanah baru - citayam yg biasanya cuma butuh waktu 40 menit jadi butuh 2 jam karena sepanjang jalan tiap kontraksi aku minta suami jalan pelan2. Ohiya, kita naik motor loh! 😁
Jam 10 malam sampai di klinik dicek mba novi ternyata udah bukaan 2 mau ke 3. Aku masih bisa makan malam sambil main gymball sambil nikmatin gelombang cinta dan ngga lupa untuk terus nafas ujjayi.

Senin, 13 Nov 2017
Jam 2 pagi mulai ngerasa kaya ada yg dorong dari dalem. Aku jaga komunikasi terus ke debayi kalau nanti sudah waktunya mengejan, Ibu minta tolong debayi bantu dorong dari dalem. Bolak balik ke toilet buat pipis, tiba2 aku muntah. Semua makan malemku keluar. Aku sempet muntah 2x sampai semua isi perut keluar. Aku sempet minta maaf ke Mba Novi karena kena muntahan aku. Tapi Mba Novi dengan lembut bilang "Gpp, justru muntah itu bagus lho buat nambah bukaan. Adik bayinya lagi bantu dorong dari dalem tuh" dan akupun langsung tenang mendengarnya :)

Semakin kesini, sensasi ingin mengejan semakin kuat. Aku minta tolong suami untuk memanggilkan Mba Novi dan ternyata saat itu Mba Ririn juga datang. Sekitar jam 4 Pagi Mba Ririn izin untuk mengecek, sudah bukaan berapa. Dan mba Ririn bilang sudah bukaan 6 hampir 7 tapi mulut rahim sebelah kanannnya masih agak tebal. Mungkin karena sejak tadi aku menghadap ke kiri terus. Akhirnya aku tiduran menghadap ke kanan menggunakan peanut ball.
Aku terus bertanya ke Mba Ririn "Aku udah boleh ngeden belum?" dan mba Ririn serta mba Novi ngga berhenti mengelus bokong aku.
Tak lama kemudian, Bude Erie dan Bude Icha datang. Bude Erie mematikan lampu kamar kemudian tiba2 sensasi ingin mengejan yang sangat kuat muncul. Kehadiran Bude Erie seperri membangkitkan penuh semua hormon oxytocin dalam tubuhku.
Aku langsung bilang "Aku mau ngeden yaa" dan semua tim Bidan langsung siap di posisi masing2. Tanpa intervensi, mereka membiarkan tubuhku memilih sendiri posisi apa yang ingin aku dan bayiku pilih dan ternyata posisi konvensional (berbaring) lah yang aku pilih. Aku lupa berapa kali mengejan. Yang jelas saat mulai mengejan, Bude bilang kalau selaput ketubanku masih utuh. Aku diminta untuk merabanya, dan itu membuatku sangat bersemangat. Aku bicara pada debayi untuk semangat dan terus bantu Ibu untuk mendorong dari dalam.
Selanjutnya saat Bude bilang sudah mulai crowning, aku semakin bersemangat lagi. Aku yakini diriku bahwa sebentar lagi aku akan bertemu adik bayi. Anak dalam kandungan yang sejak awal persalinan selalu aku ajak komunikasi dan aku minta untuk bekerja sama ini benar2 menunjukkan kerjasamanya.
Ia terus membantu mendorong dari dalam sehingga proses mengejanku terasa sangaat mudah. Aku sama sekali tidak merasa kelelahan walaupun sudah begadang selama 2 hari berturut2. Benar2 semua karena kebesaran Allah o:)

Alhamdulillahirobbil'alamin. Putra pertama kami ini lahir tepat pukul 05.48. Ia lahir dengan selaput ketuban yang baru pecah saat panggulnya keluar. Warna air ketubannya hijau muda. Bude bilang anakku pintar karena dia memilih lahir hari itu, pas sekali sebelum warna air ketubannya menjadi keruh. Ia juga terlahir dengan 1 lilitan tali pusar. Bude selalu bilang kalau bayi terlilit tali pusar itu tandanya bagus, karena tali pusarnya berarti panjang dan itu artinya sehat :)
Ah, bude memang selalu membuat kami para Ibu hamil untuk berfikiran positif karena Allah :')

Bahkan pasien bude yang beberapa minggu lalu melahirkan, anaknya terlilit 4x lilitan tali pusar dan Alhamdulillah tetap lahir dengan nyaman dan bahagia :)

Setelah keluar dari dalam perutku, anakku langsung ditaruh di dadaku untuk melakukan kontak skin to skin denganku. Aku ingat kata dokter laktasiku kala itu, yang terpenting dalam IMD adalah kontak antara Ibu dengan anak. Tak masalah jika asi belum keluar. Aku jadi berfikiran positif dan lebih tenang. Tidak berfokus pada asi yang keluar atau tidak. Aku menikmati pelukanku dengan anakku. Dan ternyata saat dibantu dipencet2 oleh mba Novi, kolostrumku keluar agak banyak dan aku langsung membantu mengarahkan puting susuku ke mulut anakku agar ia bisa menikmati kolostrum pertamanya :)
Kurang lebih 2 jam anakku berada di atas dadaku baru kemudian ia dibantu dibersihkan oleh Mba Novi.
Ohiya, selama IMD itu perineumku dijahit hihi. Ini pasti karena aku lupa mensugestikan diri bahwa perineumku utuh selama proses persalinan. Dan aku juga alpa dalam melakukan pijat perineum. Jadi ini murni salahku sendiri hihihi. Tapi tidak apa, Alhamdulillah Allah mengabulkan doaku untuk dapat melakukan persalinan dengan aman, nyaman, mudah dan minim sekali trauma.
Banyak orang bilang saat dijahit itu rasanya sakit sekali tapi bagiku tidak. Mungkin karena hormon oxytocin yang dibangkitkan oleh anakku dalam pelukanku yang membuat rasa sakitnya pergi jauh :)
Saat lahiran plasenta juga ia keluar dengan sangat mudah dan aku diminta untuk hanya bernafas dan tidak mengejan.
Aku juga pernah dengar kalau ada tangan nakes yang masuk ke rahim kita untuk membersihkan rahim kita pasca persalinan dan Alhamdulillah hal itu tidak terjadi di klinik Bidan Erie ini.
Semuanya benar2 berjalan nyaman dan tenang. Tanpa intervensi apapun.

Aku melakukan DCC (Delay Cord Clamping) pada bayiku. Dengan tujuan menghargai kakak plasenta yang telah menemani adik bayi selama di dalam rahim. Dan ia pula yang telah menyalurkan sumber makanan, udara dan sumber kehidupan ke adik bayi. Mungkin bagi sebagian orang terdengar tabu tapi aku dan suami sudah sepakat bahwa kami akan tunda untuk memutus tali pusarnya setidaknya sampai kami pulang (24 Jam pasca persalinan). Aku percaya berkat penundaan pemutusan plasenta dan tali pusar ini pula lah yang membuat anakku menjadi anak yang lebih tenang dan sangat pengertian meski ia baru saja lahir ke dunia :)

Aku pulang keesokan harinya dan sebelum meninggalkan kamar tempat persalinanku itu, aku bicara pada diriku sendiri sembari tersenyum mantap "Sampai jumpa di anak ke-2 dan selanjutnya" :)

Alhamdulillah persalinanku benar2 minim trauma. :)

Kamis, 27 April 2017

Kursi Prioritas

Memasuki fase hidup yang sangat membutuhkan kursi prioritas di transportasi umum.

Baru tau ternyata begini rasanya..
Setiap pagi sengaja datang pagi-pagi sekali agar dapat kereta yang masih 'agak' kosong.. Tapi ternyata semua kursi prioritas sudah penuh oleh ibu hamil lainnya.. Berusaha mencari bangku di kursi non prioritas pun bukan perkara mudah.

Seringkali mereka yang tengah duduk itu tampak sangat lelah sampai-sampai tak mampu membuka mata dan tidak dengar saat petugas berteriak meminta bangku untuk ibu hamil.
Dalam skala yang lebih ekstrem, ada pula yang berani menjawab "Minta bangku di sebelah sana aja tuh!" kemudian asyik tertidur kembali.

Ada pula yang sudah rela membagi duduknya dengan kita namun masih disertai gerutuan seperti "Emang beneran hamil? Kok ngga kelihatan perutnya?"

Untuk yang sehari-harinya menggunakan moda transportasi kereta commuter line pasti sudah sangat akrab dengan karakter manusia-manusia kereta di Jakarta dan sekitarnya yang cenderung egois dan hanya perduli pada dirinya sendiri.

Sebagai ibu hamil, saya pribadi 'malas' untuk 'mengemis' bangku kepada mereka. Dan satu-satunya cara yang biasa saya lakukan adalah berdoa sambil elus-elus perut "Ya Allah kuatkanlah aku dan janin yang ada di dalam kandunganku ya Allah. Aamiin.."
Yaa.. Walaupun sebagai manusia biasa yang belakangan moodnya sangat mudah naik turun ini, kadang saya sedih juga sambil ngebatin "Begini amat yaa hidup di Jakarta.." hihi

Yah tapi begitulah.. Jakarta tetap jadi kota tempat saya mencari nafkah. Mungkin saya hanya satu dari ribuan orang yang punya rumah di pinggiran Jakarta tapi mencari nafkah di Jakarta. Walhasil tiap pagi dan sore, kereta, transjakarta, angkot, kopaja, metromini dan sepanjang jalanan itu selalu dipenuhi oleh kami yang setiap harinya mengais rezeki di Ibukota itu.

Semoga ke depannya, fasilitas umum untuk Ibu hamil, lansia dan penyandang disabilitas terus ditingkatkan.

Dan semoga hati para warganya juga semakin terbuka untuk perduli pada sesama :)

Salam kuat dan semangat untuk seluruh Ibu super di dunia ini! :)

Allah knows we can!

Jumat, 26 Agustus 2016

First year of Marriage Life



Konon katanya satu tahun pertama pernikahan itu tahun yang lumayan berat. Karena dibutuhkan banyaaaaaaaaaaak sekali adaptasi dalam rentang waktu itu. Di tahun pertama itu kamu akan menemukan kalau pasanganmu (ternyata) punya banyak kekurangan, tak kalah banyak dengan yang kamu punya. Bahwa pasanganmu tidak sesempurna seperti kelihatannya saat kalian masih pacaran. Apalagi untuk pasangan-pasangan yang tidak terlalu lama melalui masa pacaran sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah.

Saya bertemu suami saya (kala itu masih teman) di akhir tahun 2014. Pertemuan pertama kami kala itu adalah agenda nonton film interstellar bertiga. Ya, bukan ngedate berduaan karena saya mengajak serta adik saya untuk menemani saya kala itu. Sebenarnya itu bukanlah pertemuan pertama kami. Karena kami pertama kali bertemu sekitar 12 tahun yang lalu saat kami sama-sama mengikuti les bahasa inggris di rumah guru SMP kami. Singkat cerita ia melamar saya di tanggal 16 Mei 2015 dan kemudian menikahi saya di tanggal 4 Oktober 2015. Waktu yang cukup singkat untuk memutuskan keputusan besar dalam hidup. Tapi saya yakin masih banyak teman-teman diluar sana yang punya waktu jauh lebih singkat dari saya.

Tak terasa hampir satu tahun kami sudah menjadi pasangan suami istri. Pasangan lain mungkin sudah ada yang sedang seru-serunya mengurus buah hati, atau yang sedang harap-harap cemas menunggu kelahiran buah hati. Namun di pernikahan kami, Allah sepertinya menginginkan kami untuk lebih jauh saling mengenal dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan lebih matang. Si buah hati yang sudah sangat sering ditanyakan orang-orang di momen pertemuan keluarga itu belum kunjung datang. Saya pribadi percaya Allah sangat tahu kapan waktu yang tepat untuk kehadiran si buah hati tersebut di tengah keluarga kecil kami. Suami saya juga selalu menjadi penguat hati saya saat setiap bulan si menstruasi terus datang pertanda saya belum hamil. Ia selalu menghibur saya dengan bilang kalimat "Tenaaang... kan masih ada bulan depan. Kita buat lagi yang rajin..." ^.^ dan saya pun selalu tersenyum mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya.

Dalam rentang waktu hampir satu tahun ini kami belajar memahami satu sama lain. Mentoleransi sifat dan kebiasaan yang baru kami ketahui saat kami sudah masuk ke gerbang pernikahan. Perbedaan-perbedaan kecil yang sama sekali tak terfikirkan sebelumnya. Bahwa ia sangat suka dingin, tidak bisa tidur tanpa kipas angin atau AC, sementara saya tidak kuat dingin dan selalu ingin memakai selimut, sementara ia tidak suka memakai selimut. Dan masih banyak perbedaan-perbedaan lain yang jika dipermasalahkan akan jadi masalah besar. Tapi saya selalu ingat kata-kata ibu saya yang mengatakan bahwa dalam pernikahan kita menyatukan dua kepala bahkan dua keluarga besar. Memang tak akan mudah menyatukan dua hal yang berbeda. Kakak-adik yang terlahir dari satu rahim Ibu saja bisa punya watak yang berbeda, apalagi suami-istri yang berasal dari keluarga, budaya, dan kebiasaan yang berbeda pula.

Yang terpenting adalah ingat lagi apa tujuan awal kamu menikah? Kalau suatu saat kamu sedang menemukan masalah besar dalam rumah tanggamu, kalau kamu menemukan bahwa pasanganmu adalah orang yang sangat menyebalkan dan kamu seolah tidak kuat lagi menghadapi sikapnya, fikir sekali lagi sudah berapa detik, menit, hari, bulan dan tahun yang kalian lewati bersama. Jika kalian mampu melewati semua hari-hari yang sudah berlalu itu, mengapa harus mengeluh untuk hari-hari selanjutnya? Bukankah cinta adalah kekuatan untuk tetap bersama sesulit apapun keadaannya?

Saya sempat berfikir bahwa suami saya adalah orang yang jorok, males mandi, kalau sudah main PES susaaaah banget disuruh berhenti, pokoknya nyebelin, Tapi kemudian saya berfikir diantara semua hal negatif yang ada di dirinya, kalau difikir-fikir siapa juga yang tahan sama wanita bawel, galak, manja, suka ngeluh kaya saya ini? Ya, cuma dia ^^

Jadi, ini baru tahun pertama kami. Masih ada puluhan tahun ke depan yang akan kami lewati bersama dengan anak-anak kami kelak. Kehidupan rumah tangga kami sering kami sebut sebagai sebuah permainan roller coaster. Kami kadang tertawa atau bahkan menangis bersama. Namun yang terpenting adalah di roller coaster ini kami duduk berdampingan, saat di bawah maupun di atas, kami selalu bersama, dan itu yang selalu menguatkan kami. Semoga Allah senantiasa memberkahi pernikahan kami. Aamiin o:)

Rabu, 02 Desember 2015

Review Vendor Undangan Pernikahan V3 Cards (Moza) Tebet

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi Saya.
Semoga dapat berguna dan dijadikan pelajaran oleh para calon pengantin lain yang sedang mempersiapkan pernikahan khususnya dalam pembuatan undangan pernikahan.


Dari berbagai pernak-pernik persiapan pernikahan, proses pembuatan kartu undangan ini yang cukup menguras tenaga, waktu dan emosi.
Saya dan pasangan (Andi) memutuskan untuk mulai memesan undangan pernikahan kami di awal bulan Juli 2015, karena akad nikah dan resepsi kami Insya Allah akan dilaksanakan pada awal Oktober.
Kami fikir, 3 bulan adalah waktu yang cukup untuk melakukan proses pencetakan undangan, tapi ternyata kami salah :(

Terpengaruh dengan popularitas pasar tebet sebagai salah satu pusat pembuatan undangan pernikahan di Jakarta Selatan, kami memutuskan untuk pergi kesana.
Berdasarkan rekomendasi dari seorang teman yang belum lama juga memesan undangan di pasar Tebet, kami menghubungi salah satu toko yang ada disana. Pemilik toko tersebut bernama Mba Fitri, dengan nama toko V3 Cards. Letak tokonya ada di lantai bawah pasar tebet, ada di paling ujung sebelah kiri dengan papan nama toko "Moza Cards". Mba Fitri berdalih tokonya baru pindah sehingga belum sempat mengganti papan nama tokonya menjadi "V3 Cards".


5 Juli 2015
Saya dan pasangan datang ke kios Mba Fitri di tebet, menjelaskan tentang desain undangan yang kami inginkan. Desain yang kami inginkan tidak muluk-muluk, kami hanya ingin undangan kami bukan hanya kertas yang akan dibuang setelah selesai dibaca, sehingga kami memutuskan untuk menambahkan kalender 2016 pada halaman belakang undangan kami.

Kurang lebih setengah jam kami berdiskusi mengenai warna undangan, jenis bahan yang akan dipilih dll, kemudian Mba Fitri memberitahu harga total yang harus kami bayar. Kami memesan 1000 lembar undangan dengan konten undangan yang berbeda, 500pcs untuk acara akad 4 Oktober 2015 dan 500pcs lainnya untuk acara ngunduh mantu di 10 Oktober 2015.
Saat itu kami setujui bahwa total harga yang harus dibayar adalah Rp 4.325.000 dengan rincian sbb:


Banyaknya
Pesanan
Satuan
Jumlah
1000
Undangan soft cover, belakang kalender 2016
Rp 4.000
Rp 4.000.000

Charge untuk beda naskah (@500 pcs)

Rp 150.000
10 pack
Plastik undangan

Rp 175.000
TOTAL
Rp 4.325.000

Tanpa fikir panjang, saya dan Andi langsung membayar DP 1 sebesar Rp 325.000 sebagai tanda jadi pemesanan. Kesalahan pertama kami adalah kami terlalu percaya pada Mba Fitri sehingga kami langsung saja membayar DP tanpa melakukan survey perbandingan harga dan kualitas undangan di toko-toko lain yang ada di tebet.
Mba fitri menjanjikan, paling lambat 2 minggu setelah kami kirim desain undangan yang diinginkan, jika sudah sesuai mba Fitri akan mencetak dummy undangan kemudian undangan sudah bisa naik cetak.

12 Juli 2015
Saya mengirimkan desain undangan ke email v3cards@gmail.com



Karena keterbatasan saya dalam dunia desain, saya hanya menggunakan font standar yang ada di komputer saya dan denah yang saya ambil pun dari google map :D





1 Agustus, 2 Agustus, sampai akhirnya 3 Agustus 2015….
Saya mulai khawatir karena mba Fitri tak kunjung ada kabar mengenai desain yang sudah saya kirim



Akhirnyaaa.. 3 Agustus 2015, desain undangannya pun dikirim ke email saya


Tapi, hasil yang dikirim sangat sangat mengecewakan. Desain yang dikirim oleh desainer mba fitri (Pak Rajudin). Ternyata mba Fitri menggunakan jasa desainer bayaran untuk mendesain undangannya (tidak menggunakan tim dari v3cards sendiri)
Berikut ini email yang dikirim Pak Rajudin


Sama sekali ngga ada perbedaan dari desain yang saya kirim. Kesel banget sih udah nunggu lebih dari 2 minggu tapi hasilnya……. -_-

Saya minta revisi dari desain yang pak Rajudin kirim, hanya sedikit penambahan, saya harap bisa segera diselesaikan karena hari pernikahan saya semakin dekat.


7 Agustus 2015
Mba Fitri ngga kunjung ada kabar perihal revisi desain saya. Akhirnya saya menghubungi beliau lagi, dan tanggal 7 Agustus saya memutuskan untuk datang langsung ke tebet untuk membicarakan desain undangan ini.


Saya sampai di kios mba Fitri jam 7 malam, sepulang dari kantor. Sampai disana, saya diajak bertemu langsung dengan Pak Rajudin. Kurang lebih jam 9 malam desainnya baru selesai, itu juga denah untuk acara 10 Oktober belum selesai dibuat karena sudah malam dan Pak Rajudin sudah ingin pulang. Maka Andi membuat gambar denah di kertas selembar kemudian diserahkan ke Pak Rajudin untuk dibuatkan keesokan harinya. Pada hari itu juga mba fitri mengatakan bahwa ada biaya tambahan untuk warna kertas yang saya pilih. Karena warnanya agak langka akhirnya mba fitri menyarankan untuk saya mengambil jenis kertas art karton 230 dan dilaminatin dove. Ada charge tambahan sebesar Rp 500.000 sehingga total keseluruhan biaya undangan kami adalah Rp.4.825.000. 


Beberapa hari kami menunggu kabar dari mba fitri mengenai kelanjutan desain undangan kami, hingga akhirnya mba fitri memberitahu bahwa undangan baru akan dikerjakan jika kami membayar biaya DP 2 sebesar Rp 2.500.000
Karena banyaknya pengeluaran, kami akhirnya baru bisa membayar Rp 2.500.000 itu tanggal 17 Agustus 2015. Namun setelah saya kirim bukti transfer, mba fitri ngga kunjung ada kabar.


20 Agustus 2015
Akhirnyaaa.. dummy undangan saya akan dicetak malam ini. Dari dummy yang dicetak, ada revisi sedikit yang saya buat, yaitu revisi kalender (tanggal 3 Oktober 2016 harusnya bukan tanggal merah) dan revisi nama mertua saya, ada typo satu huruf disana. Kertas yang dibuat untuk mencetak dummy pada malam itu juga tipis, tidak setebal yang dijanjikan mba fitri sebelumnya.
Mba Fitri berdalih karena itu hanya dummy, maka nanti di undangan yang sebenarnya kertasnya akan lebih tebal.
Kami sudah menaruh kepercayaan kepada mba Fitri sehingga kami tidak mau banyak protes disana-sini.
Mba fitri janji undangan kami akan selesai di tanggal 8 September 2015.


Sebelum jatuh deadline, beberapa kali saya mulai bawel menyanyakan perihal undangan saya ke mba fitri, namun pesan whatsapp saya hanya dibaca, tanpa ada balasan apapun.


8 September 2015 (hari yang dijanjikan)
Dengan semangat, saya datang ke tebet membawa uang untuk pelunasan undangan kami. Pulang kerja, capek, sudah malam, dan sampai di tempat, apa yang kami dapat?? Toko mba fitri tutup dan nomer telfon mba fitri sama sekali tidak bisa dihubungi.

10 September 2015
Mba Fitri (akhirnya) menelfon saya dan menyatakan permintaan maafnya. Beliau (lagi-lagi) berjanji bahwa undangan saya akan selesai pada hari selasa, 15 September 2015

14 September 2015
Saya mengirim pesan whatsapp ke mba fitri, menanyakan teknis pengambilan undangan besok, bagaimana? Apakah saya bisa ambil di depok siang harinya? (karena mba fitri melakukan pencetakan di rumahnya di depok). Namun (lagi-lagi) tidak ada balasan

15 September 2015
Jam 9 pagi, ada telfon dari mba fitri. Saya fikir beliau akan memberitahu mengenai teknis pengambilan undangan. Namun beliau justru memberitahu saya bahwa draft denah untuk undangan tanggal 10 Oktober hilang. Itu artinya undangan kami (baru saja) mau didesain, dan sama sekali belum dicetak. Kesabaran saya mulai habis dan saya marah-marah di telfon, kemudian mengirim email ke beliau.


Hari itu juga saya kirim draft denah yang akhirnya Andi buat ulang, saya harap tidak ada alasan lagi untuk menunda proses pencetakan undangan saya.

16 September 2015
Sepulang kerja saya datang ke kios mba fitri di tebet. Disana sedang ada pasangan yang juga mau mengambil undangannya. Saya diminta menunggu sebentar. Dari perbincangan yang saya dengar, pasangan yang juga mengambil undangan itu mengeluhkan hasil cetak yang berbayang dan tidak rapih ke mba fitri, namun saya tidak begitu memperhatikan apa solusi yang mba fitri berikan kepada pasangan tersebut.
Cukup lama saya menunggu hingga akhirnya setelah pasangan tadi pulang, suami mba fitri datang membawa ‘selembar kertas’ berwarna kuning. Iya, hanya selembar kertas, tidak ada sama sekali 1000pcs undangan yang sudah sejak lama dijanjikan akan dicetak.
Suami mba fitri berdalih, mesin cetak mereka sedang full dan terjadi sedikit masalah dalam pencetakan warna dan berbagai alasan lain yang sudah sangat malas saya dengarkan. Itu artinya undangan kami sama sekali belum dicetak satu lembar pun.

Kesimpulannya, malam itu kami kembali pulang dengan tangan kosong.
Suami mba fitri menawarkan nomer telfonnya karena katanya handphone mba fitri kadang bermasalah sehingga sulit dihubungi. Karena sudah sangat tidak respect, akhirnya Andi yang mencatat nomor suami mba fitri.
Kesalahan saya untuk kesekian kalinya adalah, saya tidak berfikir untuk marah-marah di toko mba fitri. Tapi saya malah marah-marah di telfon setengah jam setelah pergi dari toko mba fitri. Saya bahkan sempat meminta uang saya dikembalikan saja, namun suami mba fitri mengatakan bahwa mereka juga sudah banyak rugi karena mencetak beberapa dummy ($&%!$^$!#^%)

Akhir cerita, 17 September 2015…
Saya ke toko mba fitri, sampai disana undangan saya sudah dikemas dalam plastik besar. Karena sudah malam, dan sudah dikemas sedemikian rupa, kami pun tidak berfikir untuk mengecek satu per satu undangan.
Mba fitri hanya bilang, undangannya sudah dilebihkan dari yang dijanjikan yaitu 540pcs untuk masing-masing dari kami.

Saya hanya melihat satu undangan dan (lagi-lagi) harus kecewa karena bahan kertas undangannya sangat tipis, dan di kalender 2016 nya, tanggal 3 oktober masih tanggal merah, padahal saya sudah sampaikan di revisi terakhir. Nama mertua saya juga masih typo 1 huruf.

Undangan sudah jadi, dan saat itu sudah tanggal H-2 minggu acara pernikahan saya. Tidak ada lagi waktu untuk mengulang cetak semuanya. Akhirnya saya pulang dan membayar pelunasan ke mba fitri.

Keesokan harinya sampai di rumah. Benar saja, banyaaaak sekali undangan yang cacat. Kebanyakan kalender yang dicetak miring. Ada yang kertasnya sangat kotor, dan yang paling fatal ada yang nama kedua mempelainya masih kosong (tidak dicetak). Total undangan yang cacat ada 87 buah.

Tips untuk capeng yang sedang memilih vendor percetakan undangan pernikahan :
  • Cari tempat percetakan yang dekat dengan rumah, karena dalam proses pembuatan undangan ini, kamu akan sering bolak-balik ke tempat percetakan tersebut. Jika jaraknya dekat dengan rumahmu, maka kamu akan dapat dengan mudah mengontrol perkembangan percetakan undanganmu.
  • Mulai memesan undangan pernikahan minimal 6 bulan sebelum hari H pernikahanmu, agar jika ada masalah-masalah seperti yang saya alami, kalian bisa mengantisipasinya karena jarak waktu ke hari H pernikahan masih jauh.
  • Beberapa percetakan yang berpengalaman dan terpercaya justru tidak akan meminta DP besar di awal. Mereka akan menyelesaikan pesanan undangan dengan maksimal, setelah itu baru menagih biaya pelunasan undangan.
  • Lakukan survey ke beberapa vendor undangan agar kalian yakin mana yang terbaik dan tidak ada penyesalan di belakang :)

Semoga pengalaman saya ini bisa dijadikan pelajaran bagi capeng lain. dan semoga dengan tulisan ini, pihak percetakan mba fitri bisa memperbaiki pelayanannya.

Thanks for Reading :)

Rabu, 24 Juni 2015

Menyempurnakan setengah agama

Saya perlahan mulai menganalisa, mengapa menikah memiliki nilai yang sangat besar di mata Allah.
Bahwa dengan menikah berarti seorang hamba telah melengkapi setengah agamanya

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (Hadits ini dishahihkan oleh Al Banni di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)

Dengan pernikahan maka seseorang dapat menjaga kemaluannya dari hal-hal yang diharamkan oleh agama, yaitu zina. Hal itu dikarenakan bahwa naluri seseorang yang paling kuat dan keras adalah naluri seks dan naluri ini menuntut adanya solusi, dan islam memberikan solusinya dengan cara yang mulia yaitu, pernikahan.

Kemudian setelah menikah, bukan berarti semua telah berakhir. Semua justru baru saja dimulai. Kita rela untuk diikat selamanya dalam tali pernikahan dengan orang yang belum lama kita kenal.

Seorang wanita rela meninggalkan rumah orang tuanya untuk tinggal bersama laki-laki yang asing baginya.

Akan ada ribuan perbedaan dalam sebuah pernikahan. Jika tanpa keimanan kepada Allah, alasan terbesar apa yang akan terus membuat seseorang bertahan dengan pernikahannya?

Kemudian hingga tiba saatnya Allah memberikan sebuah hadiah dalam pernikahan hambanya, yakni seorang anak.

Seorang wanita harus menikmati 9 bulan masa mengandung janin, salah satu amanah Allah yang luar biasa.

Beberapa waktu lalu, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya menyaksikan betapa sulitnya pengorbanan seorang Ibu, berjuang antara hidup dan mati, demi melahirkan janin yang telah ia jaga selama 9 bulan dalam kandungannya.

Saya memang belum tahu persis bagaimana rasa sakitnya, namun pemandangan itu menyadarkan saya bahwa menjadi Ibu dan Istri bukanlah hal yang mudah.

Wajar rasanya jika syurga itu letaknya ada di telapak kaki Ibu :')

Untuk segala perjuangan yang akan dihadapi dalam pernikahan, hanya Allah satu-satunya alasan untuk menjadi pribadi yang tetap kuat dan istiqomah.

Jika bukan karena-Nya, kekuatan itu tak akan pernah ada.

Semoga Allah senantiasa menguatkan hati hamba-hambanya yang sedang berjuang dalam pernikahan, dan yang baru akan menuju gerbang pernikahan, agar kita semua mampu tetap istiqomah untuk menyempurnakan setengah agama kita.

Aamiin

Selasa, 02 Juni 2015

Dua Puluh Lima

Semangat Pagi...
Masih di nuansa bulan Mei
Saya belum menulis refleksi untuk tahun ini.
Bulan Mei tahun 2015 ini adalah bulan yang luar biasa ^.^
Seperti bulan-bulan yang lain, Allah senantiasa memberikan begitu banyak anugerah dan kasih sayang yang begitu melimpah bagi setiap hambaNya, termasuk Saya.
Bulan Mei tahun 2014 yang lalu saya baru saja memulai karir di kantor baru, tahun ini saya masih ada disini, dengan berbagai kekhawatiran dan keragu-raguan dalam hati. Namun Saya berjanji akan menyelesaikan tanggung jawab Saya disini semaksimal mungkin.

Masih ingat kejutan-kejutan yang Saya peroleh di tahun 2014 yang lalu?
Allah benar-benar membuktikan janjinya. Ia akan menambah kebahagiaan bagi hambaNya yang senantiasa bersyukur.

Akhir tahun 2014 yang lalu, melalui media sosial facebook, Allah mempertemukan saya dengan seorang teman lama. Kami pernah jadi teman 1 les bahasa Inggris di tahun 2003, saat duduk di bangku SMP kelas 2. Ya, itu satu-satunya kebersamaan yang pernah terjadi antara saya dan dia. Selama 3 tahun bersekolah di SMP yang sama itu kami tidak pernah jadi teman sekelas. Setelah itu kami bersekolah di SMA yang berbeda. Saya bahkan hampir lupa pernah berteman dengannya  hingga suatu hari di sekitar tahun 2009 kami bertemu di transjakarta koridor 6, sepulang saya kuliah, dan ternyata dia juga kuliah di universitas yang sama dengan saya, namun kami beda fakultas. Kami hanya mengobrol seadanya kala itu, kemudian waktu terus berlalu sampai akhirnya akhir 2014 yang lalu saya membagikan info lowongan pekerjaan di perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Dia hanya salah satu dari teman yang tertarik dengan info lowongan, namun dia satu-satunya yang minta nomer kontak saya untuk mengobrol lebih lanjut 

Ya, semua cerita hanya berawal dari sebuah info lowongan, hingga pada akhirnya tepat 16 Mei 2015 yang lalu, ia membawa keluarganya berkunjung ke keluarga saya, untuk menyatakan keseriusannya 

Subhanallah...

Rasanya masih seperti mimpi

Allah Maha Baik
Allah Maha Baik
Allah Maha Baik
Di angka 25 ini, Allah memberikan hadiah besar untuk saya, hadiah yang tidak pernah saya duga sebelumnya akan datang secepat ini, lewat cara yang begitu indah.

Usia hanyalah deret angka yang bisa kita hitung dengan mudahnya, namun dapatkah kita menghitung berapa banyak anugerah dan kasih sayang yang senantiasa dilimpahkan Sang Pencipta pada kita yang seringkali lupa untuk bersyukur..

Allah, terima kasih untuk 25 tahun yang indah ini, semoga Engkau senantiasa berada di hati Kami, membimbing Kami agar tidak memilih jalan yang tidak Engkau ridhoi

Semoga kasih sayangMu senantiasa menghiasi hari-hari kami dan memudahkan langkah kami untuk menyempurnakan iman kami kepadaMu

Terima Kasih ya Allah

Alhamdulillahirobbil'alamiin

Selasa, 03 Februari 2015

Kebaikan untuk kebaikan. Keburukan untuk keburukan

Pernahkah berfikir tentang hal-hal yang terjadi dalam hidup kita?

Bahwa setiap hal kecil maupun besar yang terjadi adalah potongan-potongan cerita yang sudah dibuat dengan sangat rapih skenarionya oleh Sang Maha Pencipta

Akan ada masa dimana kamu merasa hidup menjadi begitu indah dan semua seolah berpihak padamu.
Ketika seorang wanita mempunya paras yang cantik, otak yang cerdas, karir yang cemerlang, dan pasangan yang begitu sempurna mencintainya.

Sementara di sisi lain, ada wanita sederhana dengan karir yang hampir berjalan di tempat, harus ditambah dengan ketidaknyamanan setiap kali dihampiri pertanyaan "pasangannya mana? Kapan menikah?"

Apakah dengan demikian artinya Tuhan tidak adil?
Tentu saja jawabannya adalah tidak.

Karir yang mumpuni, paras yang cantik, pasangan yang sempurna, semuanya itu punya siapa?
Ya, semua itu titipan Tuhan yang diamanahkan padamu
Tuhan ingin tahu seberapa baik kamu mampu menjaganya.

Namun apakah Tuhan marah dengan mahluknya yang lain karena Ia menjadikannya sosok yang sederhana, karir berjalan di tempat dilengkapi dengan kesendirian?
Semua itu juga amanah Tuhan, apakah ia mampu tetap bersyukur dan berbuat baik terhadap sesama manusia.

Untuk segala yang terjadi dalam hidup kita saat ini, Tuhan tahu, apa yang terbaik untukmu.

Bahwa untuk semua kebaikan yang kamu lakukan selama hidup akan dicatat dengan sangat baik dalam catatan amalanmu.
Tuhan akan menggantikannya dengan kebaikan yang serupa, dengan caraNya sendiri yang seringkali tak pernah terfikirkan oleh nalar manusia.

Begitu pula sebaliknya, semua keburukan yang pernah kamu torehkan dalam garis kehidupan ini, harus kamu pertanggungjawabkan setiap detailnya.
Tuhan tidak sedang menghukummu, Dia hanya ingin menunjukkan rasa cintaNya padamu.

Bahwa dari semua perilaku buruk yang kamu perbuat, Tuhan masih mau mengingatkanmu.
Memanggilmu agar kau kembali mendekatkan diri padanya.
Menukar semua perbuatan buruk yang seringkali kau perbuat dengan perilaku baik kepada siapapun yang kau temui di muka bumi ini.

Maka untukmu yang tertakdirkan sempurna, bersyukurlah dan tetap berperilaku santun

Begitupula denganmu yang memiliki kehidupan yang begitu sulit, jangan bersedih :)
Tanyai dirimu lebih dalam lagi, jika kesedihan yang menyelimutimu saat ini adalah akibat dari perilaku burukmu sendiri, sesaat setelah kamu menyadarinya, maka saat itu pula Tuhan sedang mengulurkan tangganNya untuk kembali merengkuhmu

Jangan bersedih :')

Kamis, 15 Januari 2015

Berkata Baik, atau Diam

Sebuah frasa yang seringkali kita dengar
Seolah mudah untuk dilakukan
Namun sesungguhnya tak semudah itu
Ada bagian dalam tubuh kita yang disebut lidah.
Sebuah istilah mengatakan bahwa "lidah tidak bertulang" memiliki makna mendalam bahwa jika tidak kita pergunakan lidah kita untuk berbicara hal-hal baik, maka sesungguhnya ada hati orang lain yang akan kita sakiti.

Disanalah poin utamanya, bahwa menjadi diam bahkan introvert kadang menjadi pilihan yang (cenderung) baik dibanding mengedepankan sosialitas lantas tenggelam dalam perbincangan yang (cenderung) (lebih sering) membicarakan keburukan orang lain.

Sebuah tulisan juga bisa menjadi media untuk mengungkapkan perkataan baik atau buruk.
Dengan tulisan ini, saya berharap kelak akan lebih banyak orang yang tahu bahwa (terkadang) diam adalah pilihan yang baik.
Diam tak berarti antipati
Diam tak berarti angkuh
Diam tak berarti anti sosial

Namun, menjadi supel dan banyak bicara juga (terkadang) menjadi pilihan yang baik
Karena dengan berbicara, lawan bicaramu akan tahu maksud dan tujuanmu.
Tentu saja ini akan lebih baik dibandingkan hanya diam.
Menjadi supel juga baik karena dengan begitu kamu bisa menambah koleksi teman mengobrol dan bersenda gurau

Menjadi banyak bicara akan (cenderung) menjadi buruk jika topik yang kamu pilih untuk bicarakan adalah tentang keburukan orang lain.

Semoga kita semua bisa dengan bijak menjaga lisan dan perbuatan kita.

Karena Allah tidak akan menerima maaf kita selama orang yang kita sakiti hatinya belum mau memaafkan kita.

Naudzubillah :'(

Senin, 17 November 2014

Lukisan Hati

Aku mengeja aksara yang kau torehkan dalam udara, sangat sulit terbaca.
Kau gambarkan titik dan garis yang membentuk lintasan menuju ke arahmu, dengan tinta embun
Terlalu murni
Tak mampu kumaknai

Kupejamkan mata, kubiarkan hatiku yang merasa
Mencari-cari kemana akhir cerita
Namun masih tak mudah terbaca

Kubiarkan waktu merayapi tiap hentakan detik, mengiringi langkah-langkah kecil yang tercipta
Kuakrabi kecemasan ini
Seolah sudah hafal kemana semua ini akan bermuara

Malam-malam yang terlewat, setiap detik yang berdetak, pada akhirnya akan jadi sebuah cerita
Cerita yang mengisi lembar-lembar kosong dalam jurnal kehidupanmu

Kubiarkan tinta itu terus terukir, meski tak kasat mata
Kubiarkan detakan jantung berdegup tak menentu, sesekali hampir ingin berhenti

Berjalanlah, sebagaimana Tuhan menuntunmu hingga ada di titik ini
Nikmatilah tiap detiknya
Takkan pernah bisa kau ulang
Maka syukurilah tiap lekuk waktu yang menyelimutimu
Membingkaimu dengan cerita dalam berbagai warna

Pada akhirnya, kamu akan tahu kelak cerita mana yang abadi, atau hanya jadi sebuah ilusi...